Cara Menghitung Curah Hujan Dan Contoh Soal

Posted on

Cara Menghitung Curah Hujan – Jika Anda sekarang ini sedang mencari rumus yang digunakan untuk mendapatkan data intensitas curah hujan harian baik maksimum ataupun yang biasa, maka Anda bisa menemukan jawabannya dengan membaca artikel ini.



Perlu diketahui bahwa  perhitungan intensitas curah hujan umumnya dibutuhkan sebagai bagian perumusan untuk menghiung perhitungan debit rencana dengan menggunakan metode rasional. Lalu apa yang dimaksud dengan metode rasional? Sebelum membahas lebih jauh, kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian intensitas curah hujan. Berikut ini ulasan selengkapnya.

Baca juga: Cara Menghitung Sumur Resapan Dan Contoh Analisa

Pengertian Intensitas Curah Hujan

Intensitas curah hujan merupakan jumlah curah hujan yang dinyatakan dengan tinggi hujan atau volume hujan dalam setiap satuan waktu, yang biasanya dalam satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi (Wesli, 2008).  Intensitas curah  hujan  memiliki besarnya yang berbeda  karena tergantung dari  lamanya  curah  hujan  dan  frekuensi kejadiannya.

Untuk  intensitas  curah  hujan   yang  tinggi biasanya terjadi dalam jangka pendek dan mencakup wilayah yang tidak terlalu luas. Hujan  yang  mencakup  wilayah  luas,  sangat  jarang  memiliki intensitas tinggi, namun terjadi dalam jangka panjang. Sedangkan untuk kombinasi dari intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang sangat jarang terjadi, namun jika sampai terjadi  maka berarti sejumlah besar volume air akan seperti ditumpahkan dari langit. (Suroso, 2006).



Baca juga: Menghitung Kekuatan Dinding Penahan Tanah

Metode Rasional

Metode yang biasa digunakan untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banji atau debit rencana) adalah metode rasional USSCS (1973). Metode ini digunakan khusus untuk daerah yang luas pengalirannya tidak lebih dari 300 ha (Goldman et.al., 1986, dalam Suripin, 2004).

Metode rasional dikembangkan sesuai dengan asumsi bahwa curah hujan yang terjadi memiliki intensitas sama dan merata hingga ke seluruh daerah pengaliran yang dimana sama dengan waktu konsentrasi (tc). Berikut ini adalah persamaan matematik metode rasional:

Q=0,278.C.I.A

dimana :

Q



:

Debit (m3/detik)

0,278

:

Konstanta, digunakan jika satuan luas daerah menggunakan km2

C



:

Koefisien aliran

I

:

Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)

A

:

Luas daerah aliran (km2)

Di area perkotaan, luas daerah pengaliran biasanya terdiri dar beberapa daerah yang memiliki karakteristik bagian permukaan tanah yang tidak sama atau subarea, sehingga koefesien untuk setiap subarea juga memiliki nilai yang berbeda. Namun untuk menentukan koefisien pengaliran pada daerah tersebut maka harus dilakukan penggabungan dari setiap subarea.

Lambang yang digunakan untuk menyatakan variabel luas subarea adalah Aj, sedangkan koefisien pengaliran dari masing-masing subarea dilambangkan dengan Cj, Sehingga rumus yang digunakan menentukan debit adalah sebagai berikut:

dimana :

Q

:

Debit (m3/detik)

Cj

:

Koefisien aliran subarea

I

:

Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)

Aj

:

Luas daerah subarea (km2)

Saat melakukan perencanaan bangunan pengairan seperti drainase, debit rencana sangat dibutuhkan untuk dapat mengetahui kapasitas yang mampu ditampung oleh suatu drainase, sehingga seluruh debit air nantinya bisa ditampung dan dialirkan.

Baiklah mari langsung saja masuk ke pembahasan inti, berikut ini kami akan menjelaskan mengenai metode yang sering digunakan untuk menghitung intensitas curah hujan:

  1. Metode Mononobe

dimana :

I

:

Intensitas curah hujan (mm/jam)

t

:

Lamanya curah hujan / durasi curah hujan (jam)

R24

:

Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya didapat dari tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi)

Catatan: R24, berarti bahwa curah hujan selama 24 jam (mm/hari)

Sebagai contoh, Apabila Anda ingin mengetahui intensitas curah hujan dari data curah hujan dalam jangka waktu 5 menit maka caranya adalah sebagai berikut (jika diketahui curah hujan sekitar 1 hari dengan nilai 56 mm/hari):

Keterangan:

Satuan waktu dari menit harus diubah terlebih dahulu menjadi jam. Seperti misalnya, durasi selama 5 menit diubah menjadi durasi selama 5/60 atau sekitar 0,83 jam. Jika sudah mengetahui bagaimana cara mendapatkan intensitas curah hujan dari curah hujan harian maka bisa langsung menuju metode yang kedua yaitu metode van breen.

  1. Metode Van Breen

Menurut hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh  Ir. Van Breen di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, curah hujan terkonsentrasi dalam jangka waktu sekitar 4 jam dengan jumlah curah hujan mencapai 90% dari jumlah curah hujan selama 24 jam (Anonim dalam Melinda, 2007).

Berikut ini adalah cara yang digunakan untuk menghitung curah hujan dengan menggunakan metode van breen:

dimana :

IT

:

Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun)

RT

:

Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)

Perhitungan intensitas curah hujan yang dilakukan dengan menggunakan metode van breen akan menghasilkan nilai sebagai berikut:

Berdasarkan perhitungan diatas maka bisa dilihat bahwa nilai intensitas curah hujan selama 5 menit dengan nilai curah hujan harian sebesar 56 mm/hari.

Baca juga: Cara Menghitung Dan Contoh RAB Saluran Drainase

  1. Metode Haspers dan Der Weduwen

Metode haspers dan der weduwen berasal dari kecenderungan curah hujan yang digolongkan sesuai dengan anggapan bahwa curah hujan mempunyai distribusi yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan durasi curah hujan lebih kecil mulai dari 1 hingga 24 jam (Melinda, 2007).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *